Kamis, 14 Agustus 2014

(Sumber : Budaya Indonesia)
Permainan panggal (gasing) saat ini memang sudah jarang sekali dimainkan oleh anak-anak jaman sekarang. Selain kalah popular dengan permainan-permainan modern panggal juga kurang banyak diminati karena tidak ada yang membuat suatu terobosan agar permainan asli Indonesia ini tidak punah.

Berbeda dengan permainan jaman sekarang yang membatasi anak untuk tidak bertatap muka langsung dengan teman mainnya dan saling bersosialisasi, panggal justru sangat baik untuk dimainkan, karena anak bisa bertemu dengan teman-temannya dan bisa bersosialisasi langsung. Selain dimainkan oleh anak-anak permainan ini juga bisa dimainkan oleh orang dewasa untuk sekedar hiburan, atau nostalgia masa-masa kecilnya. Tapi tak jarang juga permainan ini oleh sebagian pecinta permainan tradisional sebagai ajang perlombaan.

Panggal terbuat dari kayu atau bambu. Setiap daerah memiliki segi bentuk berbeda-beda sesuai dengan keingin atau selera masing-masing ada yang berbentuk bulat lonjong, berbentuk kerucut, dan berbentuk seperti jantung. Namun intinya sama membuat benda yang bisa berputar dengan seimbang dan di mainkan dengan sebuah tali. Memainkannya pun tidaklah sulit yang penting memainkannya tidak ragu-ragu saat  melemparkannya ke tanah. 

Jenis panggal juga berbeda-beda ada panggal adu bunyi, adu putar, dan adu pukul. Panggal adu pukul biasanya diselipkan paku didalamnya sehingga dalam aduan siapa yang pecah ketika permainan  berlangsung dialah yang kalah, sedangkan panggal adu putar yang diadukan ialah ketahan berputar dalam arena permainan. dalam permainan panggal biasanya peserta terdiri dari beberapa orang yang memainkan ada juga yang berkelompok sesuai kesepakatan.

Seiring berkembangnya waktu atau zaman permainan gangsing tradisional kini sudah mulai musnah karena kurangnya pelestarian permainan tradisional dan masuknya kultur atau kebudayaan asing. Perkembangan zaman sudah masuk kedalam kebudayaan daerah kita sehingga penerus generasi bangsa jarang mengetahui permainan tradisional dan hanya mengenal namanya saja, mungkin juga tidak mengetahui sama sekali permainan ini. (/rgt)

Rabu, 13 Agustus 2014

Air terjun Pengantin (Curug Penganten) konon namanya diambil dari sebuah kisah sepasang sejoli yang menikah setelah berkunjung kesana. Jadi setiap sejoli yang berkunjung kesana dan membawa atau menggunakan air dari air terjun itu untuk di minum, mandi, cuci muka, atau membasuh sebagian dari tubuh maka akan segera disetujui oleh orang tuanya untuk menikah, atau bagi para jomblo akan di entengkan jodohnya. Ini akhirnya menjadi mitos yang dipercayai oleh warga sekitar. Buat anda para jomblo bisa di coba, siapa tau ini benar bisa terjadi.

Ada juga yang menceritakan bahwasannya dulu masyarakat sekitar sebelum melakukan acara pernikahan baik mempelai laki-laki ataupun perempuan diharuskan untuk mandi di curug ini. Semenjak itulah air terjun ini disebut curug pengantin.

Curug yang terdapat di daerah sijampang Kelurahan Ragatunjung ini belum banyak orang yang mengetahui. Bukan tempatnya yang susah dijangkau ataupun kurang menarik, melaikan karena pemerintah setempat tidak melihat potensi disekitar dan mengembangkannya menjadi tempat wisata.

Letakya di jajaran perbukitan yang membentang. Tepat di atasnya ada perkebunan teh kaligua. Sampai saat seakrang, tempat ini hanya dimanfaatkan sebagai sumber mata air yang di alirkan oleh warga sekitar untuk sawah-sawah yang ditanami sayuran slada.  Jadi kalau kita berkunjung kesana akan disuguhkan oleh hijaunya ladang slada, sama seperti rumput hijau untuk bermain sepakbola.

Sebenarnya jika tempat ini dikelola dengan baik dan serius pasti akan menjadi objek wisata yang diminati oleh para wisatawan. Selain tempatnya tidak terlalu jauh dari jalan raya, curug pengantin juga satu jalur dengan objek wisata yang sudah terkenal, yaitu perkebunan teh kaligua. Jadi saat parawisatawan melancong ke bumiayu atau paguyangan, tidak melulu ke kaligua, ada juga ke destinasi lain.(/rgt)

( Doc. Pribadi)















(Doc. Pribadi)

Senin, 11 Agustus 2014

Pernah makan rujak bebek. Rujak yang terbuat dari berbagai macam buat-buahan ini sejati sama dengan rujak seperti biasanya, namun ada hal yang membedakan dari pembuatan rujak yang satu ini. Pembuatannya menggunakan metode bebek atau biasa disebut tumbuk.

Metode ini biasanya menggunakan alat yang dinamakan alu dan lumpang. Alu adalah alat penumbuknya yang terbuat dari kayu dengan bagian tengah yang mengecil untuk pegangan.  Sedangkan Lumpang merupakan wadah berbentuk bejana yang terbuat dari kayu atau batu untuk menumbuk padikopi, ataupun bahan olahan lainnya [wikipedia].

Di desa Ragatunjung pembuatan rujak bebek biasanya dilakukan oleh beberapa orang. Setiap orang membawa buah-buahan yang ada di tempatnya masing-masing, sesuai dengan pohon apa yang mereka punya.

Pembuatan rujak secara bersama-sama ini sebenarnya menunjukan betapa harmonisnya warga yang ada disekitar desa tersebut. Saling gotong royong bahu membahu untuk membuat sebuah hidangan yang nantinya dinikmati bersama. Tradisi ini memang acap kali dilakukan saat sedang berkumpul. Waktunya juga tidak pernah ditentukan kapan dan dimananya. Namun saat ada keingin bersama akhirnya mereka membuat makanan tersebut. Tapi kebersamaan, kedekatan, harmonisnya itulah yang emnjadi tujuan utamanya.

Kalau ada ingin melakukannya silahkan saja datang dan berkunjugn ke desa Ragatunjug. Walau sekarang banyak penjual rujak bebek namun rujak bebek yang dibuat bersama-sama itu lebih nikmat. (/drg)

Minggu, 10 Agustus 2014

Menikmati pemandangan indah khas pedesaan dari atas bukit saat pagi hari, rasanya ini pilihan paling pas saat kita berlibur bersama keluarga tercinta. Di desa Ragatunjung, Keceamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes sepertinya tempat yang sangat tepat buat anda. Desa yang sebagian wilayahnya adalah perbukitan dan lembah-lembah mungkin ini menjadi tempat paling cocok untuk memanjakan mata kita.

Selain memanjakan mata tentunya kita juga butuh tempat untuk beristirahat menjauhkan diri dari hirup pikuk keramian kota yang membuat kita menjadi stres.

Selain tempatnya yang masih alami dan asri, disini anda juga akan disuguhkan keramahan warganya yang begitu bersahaja. Jadi sangat pas jika anda membuat list liburan ke tempat ini.

Kita bisa menikmati pemandangan kota bumiayu dari atas Jayaprana. Jalan yang cukup terjal harus dilewati, ini cukup untuk membuat kaki kita sedikit pegal-pegal, namun dengan udara yang masih sangat segar, daun-daun hijau yang membentang dikanan dan kiri pasti tidak akan terasa saat melewatinya.

Sesampainya diatas bukit anda akan disuguhkan oleh hutan pinus yang mulai merimbun. Hamparan ladang sawah dengan padi menguning cukup untuk membayar lelah kita.

Sepertinya tidak ada salahnya jika kita ingin berlibur bersama keluarga ke desa Ragatunjugn ini. Apalagi bagi anda yang suka dengan suasana pedesaan. Selamat berkunjung. (drg)

Minggu, 13 April 2014

Dulu ditempat ini semua orang pada mulai beraktifitas, dari mulai subuh hingga fajar menjelang. Itu semua karena tempat ini adalah sumber mata air yang biasa digunakan oleh warga. Tapi karena perkembangan jaman akhirnya sumber mata air itu pun di alirkan kerumah-rumah melalui pipa-pipa paralon.

Waktu itu setiap orang sebelum waktu subuh tiba, mereka berduyun menuju mati air tersebut. Banyak sekali kegiatan disana. Mulai mencuci, mandi, buang air esar (BAB), dll. Dengan berbekal obor (sebelum ada lampu penerangan), mereka berbondong-bondong menuju mata air yang sangat jernih itu. Laki-laki, perempuan, tua, muda, dan anak-anak pun kesana. Namun itu semua kini hanya menjadi sebuah kenangan yang selalu terngiang dalam setiap ingatan kita yang pernah mengalami hal itu. 

Oh begitu bersahajanya desa kita. Setiap orang saling bantu membantu tolong menolong dalam kehidupannya. Berangkat berkebun bersama, ke ladang bersama, ke sawah bersama, dengan membawa alat seadanya. Canda tawa mereka dalam langkah yang penuh kedamaian.

Hijaunya daun-daun, rindangnya pepohonan, yang menutupi sumber mata air itu menambah kesejukan dikala pagi buta penuh kesahajaan, burung-burung menemani dengan kicauannya. Jangkrik, tonggeret menyaut kesana kemari. 

Beberapa waktu silam ketika ada rencana pembangunan pabrik aqua semua resah karena takut malah warga yang akan menjadi korban karena semua sumber daya alam (air) itu akan di eksploitasi berlebihan. Namun dampat itu ternyata masih di kaji dan terus di kaji untuk benar-benar di kembangkan menjadi perusahaan air minum. Namun demikian walaupun secara ekonomi sangat menguntungkan namun desa Ragatunjung merupakan daerah penghasil padi yang sangat bagus, jadi sangat disayangkan jika benar mata air ini jadi untuk di eksploitasi.

Namun sekarang tempat itu terbengkalai tak terawat, hanya beberapa pancuran yang ada disitu. Mungkin kadang masih di pakai oleh beberapa orang yang singgah disana. Coba bayangkan kalau sumber mata air seperti itu kita kelola dengan baik, di beri sedikit sentuhan yang lebih futuristik itu bisa dijadikan tempat wisata, atau tempat rekreasi asik, namun dengan catatan tanpa harus mengekploitasinya.

(rdl)

Alamat

Jl. Kali Gombong No.01
RT. 02 / RW. 01 Pesawahan, Kel. Raga Tunjung,
Kec. Paguyangan, Kab. Brebes 52276
Prov. Jateng - Indonesia

Popular Posts